Fungsi VS Style bagian 1
Tulisan baru di blog ini saya awali dengan bahasan mengenai hal yang ringan seputar desain produk alat transportasi yang bernama sepeda motor. Bukan saja karena saya sendiri seorang pengendara tetapi sepeda motor sejatinya sekarang adalah kendaraan nomer satu di Indonesia. Lihat saja dari populasinya dan kelakuan pengendaranya, rasanya tidak ada jalan di kota besar Indonesia yang tidak di dominasi oleh si roda dua.
Animo masyarakat Indonesia terhadap motor jika boleh dibilang sebagian besar karena terpaksa. Pertama terpaksa karena sistem transportasi di kota-kota besar yang jelek karena minimnya transportasi publik yang manusiawi. Terpaksa karena kalau mau irit di pengeluaran transportasi ya jalan keluarnya adalah naik motor. Terpaksa yang ketiga adalah sebagai properti motor sudah masuk kategori harta benda yang harga dan biayanya lebih terjangkau ketimbang rumah atau mobil. Ketiga faktor itu jelas mengalahkan faktor resiko mulai kemungkinan celaka yang besar, kesehatan yang rentan gangguan, sampai terpaan cuaca yang di musim hujan seperti ini bakal mendera lebih sering. Tak soal toh manfatnya juga sama besarnya dengan naik motor selain irit bahan bakar, juga efisien dalam soal waktu.
Nah dengan segudang alasan diatas dan atas dasar popularitas motor di masyarakat, bolehlah kita menebak bahwa sudah seharusnya perkembangan desain motor di Indonesia jadi lebih semarak? Sekilas memang ya kalau kita lihat dari sisi pabrikan karena selain produk negeri samurai yang sudah meraja sejak era 70-an, produk dari negeri tirai bambu dan sungai Gangga juga mengalir masuk. Dari segi ragam juga cukup lumayan sejak akhir 90-an kita sudah biasa dengan produk skuter yang benar-benar otomatis.
Hanya saja ragam produk dan produsen itu tidak banyak diimbangi dengan terobosan desain di bidang fungsi. Konsumen masih saja lebih sering dijejali dengan gimmick yang mengarah ke gaya dan kadang-kadang malah berbahaya. Sebut saja taktik ganti stiker, ganti fairing, lampu dan sedikit kosmetik di bagian behel sudah serta merta mensahkan produk itu untuk di daulat sebagai tipe baru. Belum banyak produsen yang benar-benar memikirkan apa sih yang dibutuhkan pengendara motor di kota besar Indonesia?
Pemandangan satu motor di jejali barang atau helm yang centang perenang di kala parkir misalnya belum mampu menggugah produsen untuk menyediakan bagasi dan motor yang lebih besar. Padahal jika mau jujur fasilitas seperti itu rasanya lebih banyak berguna ketimbang gimmick atau pun lomba jor-jor-an CC besar. Memangnya di tengah jalanan Jakarta yang macet dan panas CC besar masih ada gunanya?
(bersambung)
Animo masyarakat Indonesia terhadap motor jika boleh dibilang sebagian besar karena terpaksa. Pertama terpaksa karena sistem transportasi di kota-kota besar yang jelek karena minimnya transportasi publik yang manusiawi. Terpaksa karena kalau mau irit di pengeluaran transportasi ya jalan keluarnya adalah naik motor. Terpaksa yang ketiga adalah sebagai properti motor sudah masuk kategori harta benda yang harga dan biayanya lebih terjangkau ketimbang rumah atau mobil. Ketiga faktor itu jelas mengalahkan faktor resiko mulai kemungkinan celaka yang besar, kesehatan yang rentan gangguan, sampai terpaan cuaca yang di musim hujan seperti ini bakal mendera lebih sering. Tak soal toh manfatnya juga sama besarnya dengan naik motor selain irit bahan bakar, juga efisien dalam soal waktu.
Nah dengan segudang alasan diatas dan atas dasar popularitas motor di masyarakat, bolehlah kita menebak bahwa sudah seharusnya perkembangan desain motor di Indonesia jadi lebih semarak? Sekilas memang ya kalau kita lihat dari sisi pabrikan karena selain produk negeri samurai yang sudah meraja sejak era 70-an, produk dari negeri tirai bambu dan sungai Gangga juga mengalir masuk. Dari segi ragam juga cukup lumayan sejak akhir 90-an kita sudah biasa dengan produk skuter yang benar-benar otomatis.
Hanya saja ragam produk dan produsen itu tidak banyak diimbangi dengan terobosan desain di bidang fungsi. Konsumen masih saja lebih sering dijejali dengan gimmick yang mengarah ke gaya dan kadang-kadang malah berbahaya. Sebut saja taktik ganti stiker, ganti fairing, lampu dan sedikit kosmetik di bagian behel sudah serta merta mensahkan produk itu untuk di daulat sebagai tipe baru. Belum banyak produsen yang benar-benar memikirkan apa sih yang dibutuhkan pengendara motor di kota besar Indonesia?
Pemandangan satu motor di jejali barang atau helm yang centang perenang di kala parkir misalnya belum mampu menggugah produsen untuk menyediakan bagasi dan motor yang lebih besar. Padahal jika mau jujur fasilitas seperti itu rasanya lebih banyak berguna ketimbang gimmick atau pun lomba jor-jor-an CC besar. Memangnya di tengah jalanan Jakarta yang macet dan panas CC besar masih ada gunanya?
(bersambung)

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda