desainlogs

Minggu, November 23, 2008

Fungsi VS Style bagian 1

Tulisan baru di blog ini saya awali dengan bahasan mengenai hal yang ringan seputar desain produk alat transportasi yang bernama sepeda motor. Bukan saja karena saya sendiri seorang pengendara tetapi sepeda motor sejatinya sekarang adalah kendaraan nomer satu di Indonesia. Lihat saja dari populasinya dan kelakuan pengendaranya, rasanya tidak ada jalan di kota besar Indonesia yang tidak di dominasi oleh si roda dua.

Animo masyarakat Indonesia terhadap motor jika boleh dibilang sebagian besar karena terpaksa. Pertama terpaksa karena sistem transportasi di kota-kota besar yang jelek karena minimnya transportasi publik yang manusiawi. Terpaksa karena kalau mau irit di pengeluaran transportasi ya jalan keluarnya adalah naik motor. Terpaksa yang ketiga adalah sebagai properti motor sudah masuk kategori harta benda yang harga dan biayanya lebih terjangkau ketimbang rumah atau mobil. Ketiga faktor itu jelas mengalahkan faktor resiko mulai kemungkinan celaka yang besar, kesehatan yang rentan gangguan, sampai terpaan cuaca yang di musim hujan seperti ini bakal mendera lebih sering. Tak soal toh manfatnya juga sama besarnya dengan naik motor selain irit bahan bakar, juga efisien dalam soal waktu.

Nah dengan segudang alasan diatas dan atas dasar popularitas motor di masyarakat, bolehlah kita menebak bahwa sudah seharusnya perkembangan desain motor di Indonesia jadi lebih semarak? Sekilas memang ya kalau kita lihat dari sisi pabrikan karena selain produk negeri samurai yang sudah meraja sejak era 70-an, produk dari negeri tirai bambu dan sungai Gangga juga mengalir masuk. Dari segi ragam juga cukup lumayan sejak akhir 90-an kita sudah biasa dengan produk skuter yang benar-benar otomatis.

Hanya saja ragam produk dan produsen itu tidak banyak diimbangi dengan terobosan desain di bidang fungsi. Konsumen masih saja lebih sering dijejali dengan gimmick yang mengarah ke gaya dan kadang-kadang malah berbahaya. Sebut saja taktik ganti stiker, ganti fairing, lampu dan sedikit kosmetik di bagian behel sudah serta merta mensahkan produk itu untuk di daulat sebagai tipe baru. Belum banyak produsen yang benar-benar memikirkan apa sih yang dibutuhkan pengendara motor di kota besar Indonesia?

Pemandangan satu motor di jejali barang atau helm yang centang perenang di kala parkir misalnya belum mampu menggugah produsen untuk menyediakan bagasi dan motor yang lebih besar. Padahal jika mau jujur fasilitas seperti itu rasanya lebih banyak berguna ketimbang gimmick atau pun lomba jor-jor-an CC besar. Memangnya di tengah jalanan Jakarta yang macet dan panas CC besar masih ada gunanya?

(bersambung)

Selasa, Oktober 09, 2007

Intelegence or Idiot Inside?

Akhirnya berita bahwa Mac akan menggunakan prosesor buatan Intel jadi kenyataan. Kemarin malam (siang waktu AS) Steve Jobs CEO Apple Computers mengumumkan rencana transisi itu. Tahun 2007 nanti diharapkan proses perpindahan dari prosesor IBM PowerPC ke Intel (entah apa nama prosesornya nanti) akan selesai dilaksanakan.

Belum ada yang bisa memperkirakan apakah ini berita baik atau buruk, yang jelas bagi pemilik ibook seperti saya (yang cicilannya masih sekitar 6 bulan lagi) ada perasaan ditinggalkan. Mungkin perasaan sama juga dialami pemilik Mac LC saat Apple mengumumkan seri Power PC.

Banyak produk yang kita tidak sukai tetapi terpaksa kita gunakan (dengan berbagai alasan), tetapi pasti tidak banyak produk seperti itu yang bisa menimbulkan percikan sehebat paltform komputer. Bertahun-tahun pengguna Mac dan pengguna PC Wintel, selalu terlibat dalam debat berkepanjangan mana platform yang lebih baik. Bertahun-tahun pula saya terpaksa terlibat di dalamnya, melayani orang-orang yang ngotot, bebal, penuh dengan jutaan fakta, lulusan sekolah teknik terkemuka, berlidah tajam, (mungkin juga bermata empat), yang mengatakan kalo PC Wintel bisa sestabil Mac.

Well ada saat-saat di mana saya hampir mau mengakui hal itu, seperti ketika baru menggunakan Dell Optiplex di kantor (yang software-softwarenya semua asli), atau ketika menggunakan merek-merek yang dianggap stabil oleh majalah komputer terkemuka (Asus, Enermax, Philips, MSI, Maxtor, dst). Biasanya hal itu hanya bertahan sampai detik ketika komputer-komputer tersebut minta di restart entah karena Hard Drive error, driver konflik, virus, konslet dan lain-lainnya. Hal-hal yang bahkan tidak mampu dipecahkan oleh bagian IT (paling tidak yang saya kenal) sekalipun.

Baru disaat-saat itulah saya mengakui kehandalan Mac yang meski salah satu portnya tidak berfungsi karena konslet tetap beroperasi sampai beberapa tahun kemudian. Memang ada juga saat-saat dimana Mac (terutama seri baru) yang tidak beroperaasi, tetapi ini terjadi lantaran Hard Drive error yang salah di perbaiki oleh teknisi penjualnya (biasa terjadi di Indonesia). Tetapi di luar hal itu jika saya membutuhkan platform yang stabil dan dapat diandalkan untuk kerja maka saya 'terpaksa' menggunakan Mac.

Jelas saya menggunakan Mac bukan karena mitos lebih cepat dari PC Wintel, bukan karena mac lebih gaya, bukan karena saya desainer grafis, sungguh jika suatu saat saya menemukan PC Wintel yang sestabil dan setangguh mac maka tanpa ragu saya akan menggunakannya. Sejauh ini pencarian itu masih terus berjalan.

Kembali ke soal Mac + Intel entah apa yang akan muncul nantinya, meski tebakan saya tak akan jauh dari Mac dalam 3 kelas (power Mac, iMac, dan Notebook (ibook + Powerbook) yang dibuat dengan motherboard khusus, bios khusus, dan prosesor Intel. Mereka yang berpikir bahwa dengan digunakannya Intel pada Mac menjadikan Mac Clone akan muncul mungkin harus menunggu dulu bentuk Mac baru ini. Meski ide tersebut menarik dan mungkin mudah diwujudkan jika Mac menggunakan desain yang umum di dunia PC wintel.

Salah satu hal yang diharapkan jangan sampai terwujud dalam Mac baru adalah stiker Intel inside yang sering di plesetkan menjadi idiot inside.

Rabu, November 15, 2006

Komputer VS Desainer 2
Bagian 2

Pada tulisan bagian pertama kita sudah mengenali tipe pembeli komputer dari konteks desainer, maka pada bagian ke-2 ini kita mencoba melihat bagaimana spesifikasi komputer yang memadai untuk pekerjaan desain grafis bagian per bagian. Dari pada membagi klasifikasi komputer berdasarkan kebutuhannya ( yang mustahil karena kekhususannya) maka saya mencoba menganalisa bagian-bagian dalam komputer dan mengupasnya sehingga rekan desainer dapat memilih isi komputer yang sesuai.

Pembahasan bagian-per-bagian komputer ini meliputi perangkat yang umum ada di dalam komputer seperti: prosesor, hard disk/hard drive, RAM, video card, dsb. Perangkat yang tidak umum ada seperti: video editing card profesional, atau software dongle tidak dibahas pada bagian ini! Juga yang dimaksud dengan komputer adalah perangkat desktop dan belum membahas laptop.

Prosesor
Kebanyakan pembeli komputer akan berusaha membeli prosesor yang paling cepat yang ada di pasar. Apalagi strategi marketing tentang kecepatan sering dimanfaatkan oleh produsen prosesor. Kabar bagusnya hal tersebut sudah usang bahkan di iklan-iklan produsen prosesor hal tersebut sudah kurang disebut-sebut lagi. Kecepatan memang penting tapi itu bukan satu-satunya faktor penentu cepat tidaknya pekerjaan desain selesai. Apalagi jika jenis pekerjaan desain yang dilakukan tidak bergantung pada cepat atau lambatnya prosesor. Percaya atau tidak saat paling lambat sebuah komputer bekerja adalah saat desainer bengong di depan komputer sambil memikirkan ide desain awal.

Pada saat tulisan ini dibuat kecepatan prosesor mandek sampai kisaran 3Ghz hingga batas aman kecepatan prosesor yang dapat dibeli adalah antara: 2 - 2,8 Ghz. Untuk memaksimalkan performa trik yang sering dilakukan oleh produsen prosesor adalah memperbesar cache memory yang ada di prosesor disini selain ukuran biasanya kecepatan cachenya sendiri juga menentukan. Trend prosesor terbaru adalah Core ganda yang secara sederhana bisa di deskripsikan sebagai mengemas dua inti prosesor dalam satu kotak. Walau kesannya berperforma tinggi tetapi tidak semua pekerjaan desain membutuhkannya, karena memang tidak semua aplikasi di rancang untuk memanfaatkan fungsi core ke dua.

RAM
Walau memory adalah investasi yang penting dan relatif besar banyak desainer yang masih keliru membedakan antara RAM yang cukup (untuk bekerja) dan RAM minimal untuk sebuah aplikasi. Jika sebuah aplikasi menyatakan RAM minimalnya adalah 256 MB maka harus juga diperhitungkan RAM yang dibutuhkan untuk sistem operasi dan file yang dibuka. Sebagai gambaran Adobe Photoshop CS membutuhkan RAM sekitar 256 MB, sistem operasi Windows XP sendiri sudah menggunakan sekitar 128 - 256 MB RAM, Photoshop juga membutuhkan RAM sekitar 5 kali ukuran file yang sedang dibuka. Maka jika RAM yang ada tidak cukup photoshop akan menggunakan hard disk sebagai RAM temporary yang sayangnya akan menurunkan kinerja karena lebih lambat.

Dalam hal RAM selain besarnya juga perlu diperhatikan tipe yang digunakan karena setiap komputer hanya dapat menggunakan tipe-tipe RAM tertentu saja. Hal terbaik yang bisa dilakukan pada RAM adalah mengkalikan dua kebutuhan RAM dasar untuk dapat bekerja dan mengkalikan empat untuk kinerja yang tinggi.

Video Card
Memang akhir-akhir ini produsen lebih sering meluncurkan produk video card baru untuk kepentingan video game di banding untuk kebutuhan profesional. Apalagi nyaris seluruh video card baru hanya mempercepat animasi 3D di banding animasi 2D. Keuntungannya bagi pekerjaan grafis 2D kita dapat memilih sembarang video card untuk digunakan. Satu-satunya hal yang perlu diperhatikan adalah apakah card tersebut merupakan video terintegrasi atau terpisah. Video card terpisah lebih disukai karena biasanya menggunakan dedicated memory terpisah sehingga tidak mengurangi kapasitas RAM selain tentunya memorynya yang lebih cepat.

Motherboard
Bagi mereka yang membeli komputer branded (bermerek) hal motherboard dapat dilewatkan, karena biasanya menggunakan motherboard custom made sesuai spesifikasi produsen komputer. Untuk memilih motherboard harus dipastikan prosesor dan RAM yang sesuai, karena produsen umumnya membatasi kemampuan motherboard untuk dapat menggunakan pilihan prosesor dan tipe RAM.

Fitur yang sesuai dengan tujuan penggunaan komputer bagi pekerjaan desain yang spesifik juga perlu diperhatikan. Misalnya seperti berapa banyak port, slot ekspansi, dan bonus fasilitas yang mungkin mengurangi biaya daripada menggunakan perangkat tambahan. Tetapi untuk kebutuhan profesional, fitur tambahan seringkali tidak dapat digunakan sebagai subtitusi karena kinerja dan kualitasnya kurang maksimal.

Hard Disk
Hard Disk adalah perangkat utama untuk menyimpan file yang sering diakses. Dewasa ini jumlah pembuatnya tinggal beberapa saja, dengan kualitas yang relatif serupa. Ukuran masih menjadi pertimbangan dalam pemilihan Hard Disk. Tetapi dengan maraknya penggunaan RAID (redundat array of inexpensive disk) baik dengan pertimbangan kecepatan maupun back-up data, penggunaan Hard Disk dengan kapasitas sedang dalam jumlah lebih dari satu lebih disarankan.

Beberapa desainer sendiri (seperti saya) lebih memilih memisahkan Hard Disk yang digunakan untuk aplikasi dan penyimpanan file dengan pertimbangan keamanan data dari gangguan teknis. Maklum sekuat-kuatnya Hard Disk ia tetap rawan rusak baik karena ganguan listrik dan panas yang berlebih.

PSU
Memang terlihat sepele dan hampir tidak pernah diperhatikan tetapi PSU (Power Supply Unit) memegang peranan penting terhadap keawetan perangkat lain dari gangguan kestabilan pasokan daya. Jika anda memilih PSU yang murah dan rendah kualitasnya maka besar kemungkinan ia akan menimbulkan gangguan di kemudian hari dibanding membeli PSU yang berkualitas. Kadang berbagai masalah teknis pada perangkat lain berawal dari PSU.

Casing
Untuk komputer branded biasanya pilihan casing di bedakan berdasarkan tipe komputer yang ditawarkan. Untuk mereka yang merakit komputer casing dapat dipilih berdasarkan kebutuhan. Untuk itu lebih tepat menggunakan pertimbangan fungsi seperti: kemudahan pasang-bongkar, dan adanya fasilitas tambahan eksternal di banding karena alasan estetis semata.

Bangku dan Meja
Mungkin terasa aneh melihat bangku dan meja dalam pembahasan ini, tetapi hampir dipastikan sebagian besar desainer yang menggunakan komputer desktop akan meletakkannya di atas meja dan membutuhkan bangku untuk dapat mengoperasikan komputer dengan nyaman. Lucunya sebagian besar desainer juga sering tidak mau menginvestasikan uang yang cukup dalam memilih furniture yang digunakan walau ia akan menggunakannya selama berjam-jam setiap hari. Pemilihan bangku dan meja yang ergonomis tentu akan membantu desainer dalam membuat desainnya.









Komputer VS Desainer 2
Bagian 1

Biasanya jika ada rekan yang hendak membeli komputer, entah itu berplatform Windows atau Macintosh mereka akan bertanya pada saya. Mulanya senang juga jadi tempat bertanya, apalagi saat itu saya sedang antusias-antusiasnya mengikuti perkembangan komputer. Tetapi lama kelamaan saya menjadi bosan, bukan saja pertanyaannya hanya itu-itu saja, juga karena
perkembangan teknologi dan jargon marketing-nya terlalu sering berganti.

Rata-rata pembeli komputer baru berdasarkan pengalaman saya terbagi menjadi tiga tipe yaitu:

  • Umum
  • Khusus
  • Ter-

Tipe Umum
Pembeli komputer tipe umum, biasanya tidak terlalu paham perkembangan teknologi dan jargon (yang kebanyakan hanya strategi marketing) di dunia komputer. Bagi tipe ini perbedaan antara komputer untuk desain grafis dengan keperluan lain tidak terlalu dirasakan. Yang penting bagi mereka komputer yang dibeli mampu menjalankan aplikasi grafis walau kemudian kinerjanya tidak maksimal. Karena pengetahuannya yang rendah biasanya tipe ini kerap menjadi korban dari tawaran komputer paket hemat yang kualitas hardwarenya kurang baik.

Tipe Khusus
Pembeli komputer tipe khusus, adalah kebalikan tipe umum. Mereka umumnya paham benar perkembangan teknologi dan jargon di dunia komputer. Bagi tipe ini pembelian komputer di dasari oleh kebutuhan khusus sesuai dengan lingkup kerja mereka. Jika mereka desainer grafis maka kemampuan komputer dalam menjalankan aplikasi grafis menjadi hal yang utama. Begitu juga jika mereka adalah video grafer, atau desainer multimedia, pokoknya komputer yang mereka beli harus mampu membantu lancarnya proses desain yang mereka lakukan. Tipe khusus sering kali fanatik terhadap brand tertentu yang dikenal memiliki kinerja tinggi, walau demikian apabila satu brand mengecewakan maka mereka juga tidak segan untuk meninggalkannya. Tipe khusus sebelum membeli sudah tahu benar budget dan komputer yang ingin mereka dapatkan pun tempat penjualannya.

Tipe Ter-
Pembeli komputer tipe ter-, mungkin lebih baik digolongkan ke teknologi maniak. Mereka adalah pihak yang paling termakan oleh segala macam teknologi dan jargon di dunia komputer. Menjadi pihak yang terdahulu merasakan satu teknologi komputer walau mungkin tidak terlalu dibutuhkan adalah tujuan utama petualangan mereka. Selain menjadi desainer patut dicurigai mereka memiliki pekerjaan sampingan sehingga faktor uang bukanlah masalah. Penjual komputer umumnya senang tipe ini karena mereka selalu membeli setiap ada teknologi baru muncul. Walhasil komputer yang mereka miliki secara teoritis mampu melahap setiap pekerjaan yang ada di dunia desain grafis walaupun pekerjaan itu belum tentu mereka dapatkan.

Dari deskripsi di atas tentunya bisa kita lihat bahwa menjadi tipe khusus adalah yang paling baik. Pembelian sebuah komputer harus di dasari oleh kebutuhan utama, apalagi biaya yang dikeluarkan untuk investasi itu tidak sedikit. Tentunya kita kita mengharapkan pekerjaan mendesain menjadi terbantu dan uang yang kita keluarkan terbayar oleh hasil yang kita dapatkan. Maka hal pertama yang harus dilakukan sebelum membeli komputer adalah mendaftar apa saja kebutuhan kita yang bisa dipenuhi oleh sebuah komputer, dan jika kebutuhan itu menjadi terlalu banyak mungkin ada baiknya mempertimbangkan pembelian komputer ke dua untuk kebutuhan non desain.

Komputer VS Desainer

Komputer dan dunia desain grafis (dkv) sekarang ini adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun mengajarkan komputer pada desainer dan calon desainer, komentar bahwa komputer adalah sekadar alat sepertinya terkesan terlalu merendahkan. Kenyataannya komputer harus dilihat sebagai bagian dari media digital yang fungsinya tidak hanya terbatas sebagai perangkat untuk memvisualkan ide tapi juga lebih dari itu.

Tragisnya desainer yang secara skeptis kerap memandang komputer sebagai sekadar alat sering terlihat kurang "menguasai" komputer. Menguasai disini dimaksudkan bukan sekadar mahir menggunakan berbagai hardware dan software, tetapi yang lebih penting memahami prinsip dan aturan dasar penggunaan komputer sebagai media proses desain.

Untuk membantu mereka yang keras kepala tetapi tidak mau belajar inilah, saya menyusun beberapa tips dasar agar desainer (senior, yunior, maupun calon) dapat lebih memahami penggunaan komputer untuk desain.

Secara garis besar saya bagi penjelasan tersebut menjadi:

1. Hardware

  • Perangkat Komputer
  • Perangkat Input
  • Perangkat Output

2. Software

  • sistem operasi
  • utiliti
  • desktop
  • multimedia
  • macam-macam

Jumat, September 15, 2006

Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan saya putuskan juga untuk ikutan 'nge-blog'. Sebenarnya biar saya webdesainer "terpaksa" (nanti lah saya cerita kenapa saya terpaksa jadi desainer web), fasilitas internet yang saya gunakan cuma:

1. E-mail
2. Browsing
3. FTP
4. Peer To Peer

sisanya seperti chatting, friendster (masuk fasilitas gak ya?), dan juga blog tidak begitu saya sukai. Saya sebutkan satu demi satu alasannya secara singkat. E-mail berguna buat saya karena, saya malas pergi ke kantor pos hanya untuk mengirimkan surat. Browsing jelas sejak awal fasilitas ini yang paling sering saya gunakan untuk mencari data. FTP juga menarik buat saya karena memungkinkan kita mentransfer file ke komputer lain tanpa repot-repot beranjak dari duduk. Peer to Peer apalagi kalau bukan kemampuannya untuk sharing file-file 'ilegal'. Informasi yang lebih detail kenapa fasilitas ini penting buat saya nanti saya cross link ke artikel pertama ini.

Sekarang kenapa saya tidak suka chatting...ya dulu sempat suka sih tapi waktu itu internet belum seramai dan se-hostile sekarang. Sampai saya menemukan artikel kalo ndak salah di majalah Mac User yang membahas soal istilah-istilah di Internet, ada yang disebut dengan istilah cybermorf (orang yang ngaku cewek padahal cowoq dan vice versa). Setelah baca artikel ini jadi rada takut gimana kalau temen chatting ternyata bukan seperti yang kita kira dan baru ketahuan waktu kita offline....hiyyy amit-amit. Sejak itu saya ndak mau lagi pakai fasilitas chatting, kebetulan setelah itu kerja di beberapa tempat yang berfasilitas internet unlimited, eh rata-rata sekretarisnya (sorry no offense sama sekeretaris lho) suka chatting, saking asyiknya malah lebih sering liat sekretaris di kantor sibuk chatting ketimbang kerja.

Friendster juga saya kurang suka, kesannya jadi lebih mirip kolom sahabat pena di majalah jaman dulu. Blog juga awal-awalnya saya ndak suka, soalnya yang saya liat waktu itu kebetulan isinya mirip diary...walah diary yang biasanya di tutupin rapat-rapat koq malah di umbar...?
Jangan-jangan yang bikin termasuk kategori selalu minta dikasihani. Untung blog-blog yang saya liat kemudian lebih baik karena isinya bermanfaat dan bisa membantu orang lain. Gara-gara asas manfaat dan membantu itu saya jadi tertarik bikin blog juga.

Kebetulan karena profesi saya desainer grafis, maka blog-nya saya beri judul desainlogs.
Paduan dari kata desain dan blogs. Isinya semua hal ihwal yang bertalian dengan desain terutama tentu desain grafis atau sekarang lebih dikenal sebagai desain komunikasi visual.
Mudah-mudahan sepatah-dua artikel yang saya buat bisa berguna buat pembacanya.

Oke segitu dulu artikel pertamanya, gak enak online terlalu lama, bayarnya mahal...:)

YA